Rabu, 02 Maret 2016

LYRIK BIDAN SIAGA


Ditempat kulahir
Di negri Indonesia
Bertugas mengabdi
Kepada masyarakat
Dengan hati yang tulus
Membantu masyarakat
Untuk mewujudkan Indonesia sehat
Bangkitkan semangatmu
Bulatkanlah tekadmu
Berikan pelayanan
Yang berkualitas sehat
Jadi bidan siaga
Siap antar dan jaga
Untuk mewujudkan Indonesia sehat

JEMBATAN BIRU : BERJALAN DI ATAS RAWA PENING


            "Jembatan Biru", sebuah nama yang tidak asing di telinga masyarakat - khususnya remaja - sekitar tuntang, salatiga, ambarawa, dan sekitarnya.
            Jembatan ini terletak di Tuntang, Kab. Semarang, Jawa tengah. dekat dengan rawa pening dan Sungai Tuntang. Kalau yang biasa mondar mandir salatiga-semarang, pasti tidak asing dengan yang namanya Jembatan Tuntang. Nah.. Sungai Tuntang ini berada tepat di bawah Jembatan tuntang yang bermuara di Rawa Pening.
            Pertama, kenapa dinamakan Jembatan Biru? jawabannya karena warnanya "biru" - iya memang warna jembatan ini berwarna biru, kenapa harus biru? mungkin tukang cat nya enggak suka warna pink, mungkin cat nya yang ada cuma warna biru. hehe.. kalau filosofi yang sesungguhnya mimin kurang tahu. Eh tapi warna jembatan ini tidak biru semua, cuma tepi nya yang biru. Kalau bawahnya perpaduan antara keramik motif dan plester. jembatannya ada tiga buah yang tidak saling berhubung. loh? kok bisa? Namun baru-baru ini dibangun dua jembatan melengkung yang berwarna biru semua untuk menghubungkan jembatan yang tidak saling terhubung. Benar-benar berwarna biru semua.
Rute menuju tempat ini tidaklah sulit. Untuk teman-teman dari Salatiga, silahkan menuju jembatan tuntang, kemudian maju sedikit kurang lebih 50 m akan bertemu pertigaan, Nah dari sini belok ke kiri. Menuju desa Sumurup. Selama perjalanan ini, kalian akan di suguhi pemandangan Sungai Tuntang di sebelah kiri yang kadang banyak pemancing yang sedang menunggu umpannya dimakan ikan, Rel kereta api yang jarang dilintasi kereta api, dan terlihat pula enceng gondok Rawa Pening. Setelah mengikuti jalan kurang lebih 5 menit menggunakan kendaraan bermotor, teman-teman akan banyak menemui petunjuk jalan menuju tempat parkir Jembatan Biru yang letaknya di kiri jalan.
Sesampainya tempat parkir, pengunjung hanya dikenakan biaya parkir dua ribu rupiah untuk sepeda motor dan untuk mobil belum tahu. Hehe. Tidak perlu berjalan jauh kita sudah sampai di Jembatan Biru. Hanya saja kita harus menyeberangi rel. Sesampainya di jembatan, pengunjung bisa langsung jalan-jalan dan berfoto sepuasnya di atas jembatan biru. Namun, pengunjung tidak diperkenankan turun di area perahu untuk berfoto.
Di ujung jembatan, kalian hanya akan menemui warung kecil yang menjual berbagai macam makanan ringan dan berat. Hanya itu saja yang kita jumpai di ujung jembatan. Bukan berarti mengecewakan lhoo ya, pemandangan yang kalian dapatkan luar biasa jika cuaca bagus, saat tidak mendung. Oh iya, disini kita juga dapat berkeliling rawa pening menggunakan perahu motor dengan hanya membayar lima ribu rupiah per orang. Murah kan? Kita juga bisa foto dengan latar belakang rel kereta api. Kalau beruntung, kita juga bisa menyaksikan kereta uap tua yang sedang melaju lhoo.
Indah bukan? Yuk jalan-jalan dan cari spot menarik untuk berfoto ria.

 ini jembatan birunya
 bermain air di atas perahu
jembatan biru yang tidak seluruhnya biru
         

LYRIK HYMNE IBI


Setiap waktu ku berjuang
 
Untuk kemanusiaaan

Itulah semua tugasku

Yang tak mengenal waktu

Berat terasa ringan

Tugas seorang bidan

Ku tak ingin tanda jasa

Semua hanya ikhlas adanya

Ikatan bidan Indonesia

Berasas pancasila

Seluruh jiwa dan ragaku

Demi bahagia seluruh bangsaku          

Selasa, 08 September 2015

Nyemarang, Wisata waduk Jatibarang plus Goa Kreo

Goa Kreo dan waduk jatibarang, merupakan salah satu tempat wisata di seputar semarang. Tepatnya terletak di desa Kandri, Gunung pati, Semarang. Wahana wisata ini menyuguhkan bendungan yang masih bersih dan terdapat
Untuk mengisi liburan semester, kami (Aku dan soulmate (cie ciee)) berencana jalan jalan mengisi waktu luang dan sebelum si dia pergi tugas :D .

Kami memiliki dua pilihan  tempat wisata yang akan kami singgahi. Setelah berdebat cukup lama, dan kami telah mempertimbangkan waktu dan kondisi juga, akhirnya kami memutuskan Goa Kreo sebagai tujuan utama kami..

Perjalanan dimulai dari kota kecil penuh cerita, ya Kota Salatiga. Start dari rumah kurang lebih pukul 10 pagi. Kami langsung menuju tujuan kami. Pertama yang kami cari adalah pasar Gunung pati. Setelah mendapatkan pasar tersebut, belok kanan dan jalan lurus terus ikuti jalan yang berkelo kelok dan bergelombang namun pemandangan cukup menarik. Pertama yang kami lihat adalah bendungan jatibarang di sisi kiri kami. Maju sedikit terdapat gapura di kiri jalan yang merupakan pintu gerbang desa kandri. Kemudian akan masuk jalan pedesaan yang masih sepi. Tak lama kemudian sampailah kita di Goa kreo.
Sekitar pukul 11 siang kami sampai di Tempat Wisata Bendungan Jatibarang dan Goa Kreo J . Tanpa menunggu waktu lama, kami langsung masuk ke wahana wisata yang masih tergolong baru tersebut. Oh iya, sekedar tips. Sebelum masuk ke gerbang/loket twmpat wisata, nanti kalian akan di tawari tempat parkir. Kalau saran saya sih, kalian tetep masuk aja. Soalnya dari pihak pengelola sudah menyiapkan tempat parkir yang cukup nyaman (tapi berdebu sekali) hihihi... Tiket masuk yang di patok pengelola cukup terjangkau. Malahan terbilang murah jika di banding tempat wisata yang lainnya. Yakni Rp. 3500,- untuk satu orang dan biaya parkir  Rp.1000,-  untuk hari libur. Kalau hari biasa aku kurang tau. Bisa saja sama atau lebih murah. Bisa di coba nih buat yang mau main dana terbatas. Yang penting perutnya di jaga aja ya. Hihi
Langsung saja kita jalan-jalan.
Keluar dari tempat parkir. Kita langsung mendapat suguhan waduk jatibarang yang terdampar bersih di depan mata hanya terhalang beberapa batang pohon. Kemudian di sebelah kanan sudah nampak jembatan jatibarang yang lumayan bagus. Untuk mencapai jembatan tersebut, kita harus menuruni beberapa puluh anak tangga yang menyenangkan. Karena pemandangan kanan kiri yang cukup indah, dapat mengalahkan rasa lelah kita. Sesampainya di jembatan, cukup banyak objek yang bisa di jadikan latar belakang untuk berfoto. Kalau beruntung, di jembatan tersebut sudah dapat di jumpai beberapa ekor kera yang berkeliaran bebas mencari makan dan menyapa pengunjung. Jika ingin menjumpai kera yang emiliki nama latin Macaca fascicularis tersebut, mari kita lanjutkan pejalanan menuju Goa Kreo. Di halaman goa kreo banyak terdapat pepohonan yang cukup rindang. Di pohon-pohon inilah kera kera yang ramah tersebut bergelantungan menggoda pengunjung. Tetapi, jika pohon ini daunnya berguguran, maka kera tersebut akan mencari ke tempat yang lebih rindang. Di atas goa contohnya, di atas Goa kreo terdapat tanah lumayan luas. Malah lebih seperti kebun. Banyak sekali Kera di sekitar tersebut. Kalau sudah sampai sini, sekalian masuk ke goanya. Sekedar lihat-lihat aja sih. Goa kreo ini tidak memiliki ujung. Di dalamnya gelap sekali, belum ada listrik masuk di dalam sini sih. Ada dua mulut goa yang bisa di masuki. Mulut pertama tidak terlalu dalam. Di dalamnya ada patung apa kurang tau yang di depannya banyak sesajen seperti rokok, pisang, uang (sayang banget kan) dan tentunya ada bunganya. Ngeri deh baunya. Lalu mulut yang kedua lebih dalam dari mulut pertama. Di dalamnya tidak ada patung dan sajen seperti di mulut pertama. Pajangnya kurang tau, karena belum sempat masuk sampai ujungnya. Gerah sekali di dalam sana.
Apa lagi ya...
Kayaknya cukup cerita kali ini. Sekedar berbagi pengalaman. Dan bisa dijadikan pengetahuan sebelum kalian kalian mau main kesini.
Nantikan cerita lainnya dari kami 


ini kita ({})
ini aku dengan latar belakang waduk Jatibarang
teman jalan jalan kali ini. dgn latar belakang jembatan, Ridwan Yusuf
Macaca fascicularis