Kamis, 01 Juni 2017

Kampung Pelangi atau Kali Warna Bejalen, Tempat Pas mengisi Stok Galeri Foto

Kampung Pelangi atau Kali Warna Bejalen, Tempat Pas mengisi Stok Galeri Foto
Assalamualaikum,
Hallo.. Seperti biasa menyempatkan jalan-jalan di waktu yang sebenarnya nggak pas. Bagaimana bisa? Ditengah dikejar deadline buat ujian dan mengumpulkan ini dan itu.
Alhamdulillah menengok kalender bulan Mei, ada tanggal berwarna merah tidak pada tempatnya, tanpa pikir panjang langsung atur strategi untuk liburan. Dan syukurlah implementasinya seperti perencanaan. Jadi kita camp di Mawar lalu paginya baru deh jalan-jalan. Jalan-jalan kemana? Ada dua tujuan yaitu Benteng pendem dan Kampung Pelangi, mana ya yang mau di tulis kali ini? Sepertinya ditulis yang lagi hits dulu yaa. Okay, dalam tulisan kali ini kita akan mengupas tuntas tentang Kampung Pelangi Bejalen
Ada yang sudah pernah ke Kampung Pelangi Bejalen? Ah pasti sudah banyak yang mengunjungi tempat wisata satu ini, apalagi warga pemuda pemudi sekitar Kabupaten Semarang. Sudah pastinya telah mengetahui Kampung Pelangi ini.
Bagi yang belum tau, leea mau berbagi pengalaman ini. Jika ada kesalahan dalam memberikan informasi, boleh banget dibenarkan dan diberikan saran.
Kampung Pelangi atau Kali Warna Bejalen ini terletak di Dese Bejalen, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Kampung pelangi berada di tepi jalan lingkar ambarawa. Rute menuju tempat wisata ini tidaklah sulit. Jika teman-teman dari semarang/ambarawa, bisa melewati jalan lingkar Ambarawa. Sebelum sampai desa bejalen, kalian akan melewati Kampung Rawa terlebih dahulu. Kemudian di kiri jalan akan ada tugu bertuliskan “Desa Wisata Bejalen”. Untuk yang dari salatiga, teman-teman bisa melewati Kecamatan Banyubiru, sesampainya di lampu lalu lintas Jalan Lingkar Ambarawa, kita belok kanan. Kemudian kampung pelangi ada di kanan jalan.
Sesampainya di Tugu yang sekaligus pintu masuknya, terdapat petugas yang akan mengarahkan kita untuk memakirkan motor kita ditempat semestinya. Oh iya, saat kita masuk ke tempat wisata ini, kita dikenakan tarif Rp 3000 rupiah perorang dan Rp 2000 rupiah untuk parkir Motor, dengan tarif yang cukup murah tersebut kita juga dapat cemilan yaitu Stik rasa betutu. Mungkin ini cara masyarakat untuk memperkenalkan makanan khas daerah tersebut.


Dari parkiran, kampung pelangi belum nampak. Kita harus jalan kaki cukup jauh dahulu sebelum memanjakan mata. Setelah berjalan kaki melewati gang khas pedesaan yang cukup sempit, terlihat jembatan yang di cat dengan berbagai warna dan dihiasi bola-bola dari ukuran kecil hingga sedang dengan berbagai warna pula.
Tempat ini juga dikatakan Kali Warna Bejalen. Mungkin alasannya karena tempat wisata ini berada di pinggiran kali. Uniknya, hanya sisi yang menghadap ke kali yang di cat dengan berbagai warna pelangi, sedangkan sisi lainnya seperti rumah normal pada umumnya.
Banyak sekali spot foto yang unik disini, mulai dari asbes yang di ‘berdirikan’ kemudian di cat warna warni, kemudian tembok rumah yang di cat dengan motif hati, polkadot, sampai gambar tiga dimensi. Silahkan ingin berfoto dengan latar belakang yang mana. Di desa wisata ini kita dapat menyewa perahu motor untuk berkeliling rawa pening dengan harga yang cukup terjangkau dan perlengkapan keamanan yang memadai.
Seperti tempat wisata lainnya, tentu saja di tempat wisata banyak yang menjajakan daganggan seperti makanan dan minuman. Tetapi jangan khawatir, harga makanan dan minuman ini masih dalam batas normal. Hehehe
Saya sarankan jika teman-teman ingin mengunjungi desa bejalen ini, pergilah disaat pagi atau sore agar tidak bertarung dengan sinar matahari. Semoga tempat ini dapat memperbaiki suasana hati kalian.
Sekian pengalaman piknik kami. Sisihkan uangmu, langkahkan kakimu, tangkap potret keindahan alam melalui kedua lensamu.
Dari saya pecinta es susu coklat. Penikmat lembayung senja, sunrise, sunset, kabut, dan kamu.. tunggu kisah kami berikutnya.
 Follow IG @rizkyamaalliiaa ya untuk lihat lebih banyak lihat galeri leea.










Minggu, 09 April 2017

Hutan Pinus Grenden di Pogalan Magelang, Liburan Paket Komplit

Hutan Pinus Grenden di Pogalan Magelang, Liburan Paket Komplit
Dalam tulisan kali ini kami ingin berbagi kisah dan pengalaman selama jalan-jalan. Masih di hawa yang dingin dingin syahdu gitu, kalau di postingan lalu di kawasan selo, kali ini melesat menyebrangi gunung merbabu ke daerah magelang yaitu ke konsevasri alam Grenden. Mungkin sudah banyak yang kenal dengan tempat wisata yang satu ini, untuk yang belum tahu bisa disimak tulisan leea kali ini yes.
Konservasi alam Grenden merupakan wisata alam yang menyajikan berbagai macam pilihan wisata yang dapat dinikmati mulai usia belia hingga dewasa menjelang tua. Sesuai namanya, wisata grenden ini terletak di Dusun Grenden, Desa Pogalan, Pakis, Magelang, Jawa tengah. Berada di lereng gunung merbabu, desa ini memiliki udara yang dingin dan pemandangan yang menakjubkan. Lalu, apa saja wisata yang ada di grenden ini? Banyaaak sekali, antara lain
1.      Hutan pinus
2.      Tebing batu rembesan
3.      Mandi kabut
4.      Suara kicau burung
5.      View 1600 mdpl
6.      Spot selfi
7.      Flying fox
8.      Downhill
9.      Prewedding
10.  Sunset
11.  Outbond
12.  Campground
Banyak sekali bukan? Tertarik liburan bersama terkasih ke tempat indah ini? Dikesempatan yang berbahagia ini sekalian akan ku share rute menuju ke surga tersembunyi ini. Di pahami ya.
Jika kalian dari salatiga, arahkan kendaraan kalian ke arah kopeng, ikuti jalan saja hingga ketemu pertigaan arah ke ketep pass. kemudian ikuti jalan menuju gardu pandang ketep pass dan top selfi. Grenden ini terletak di kiri jalan setelah top selfi dan sebelum ketep pass. Alangkah indahnya jika berlibur ke grenden sekalian mampir ke top selfi dan ketep pass sekalian ya.
Jika kalian dari arah borobudur, maka letak wisata ini di kanan jalan setelah ketep pass dan sebelum top selfi. Kalian akan melihat MMT besar bertuliskan GRENDEN dan berbagai wisata yang ditawarkan.
Setelah MMT grenden tersebut, kalian hanya butuh untuk mengikuti jalan yang cukup mengerikan. Jalannya sudah lumayan, tanah diberi alas batu batu yang disusun sungguh cantik. Kemudian akan melewati pemukiman penduduk dan melewati jalan dua tapak. Cukup sepi, tapi jangan khawatir, bebas begal. insyaAllah.
Untuk biaya masuknya, Ketika kami berlibur, kami hanya berdua. Kami dikenai biaya masuk 3000 rupiah perorang. Dan 2000 untuk parkir motor. Mungkin akan sedikit naik jika hari libur.
Okay, akan kita kupas satu persatu wana wisata tersebut.
1.      Hutan pinus
Jika sudah sampai di loket grenden, kalian sudah akan melihan hutan pinus ini. Hutan pinus yang sangat lebat, sejauh mata memandang pandangan kita akan didominasi oleh pohon tinggi berbatang langsing ini. Tidak kalah cantiknya jika dibandingkan beberapa hutan pinus yang sudah terkenal beberapa tahun ini.
2.      Tebing batu rembesan
Ini nih yang berhasil membuat leea penasaran. Maksudnya apa sih kok namanya menakutkan plus unik begitu? Kemudian kami menemukan arah menuju tebing batu tersebut. Awalnya ragu, karna jalannya cukup sempit dan terlihat licin. Tapi karena memang penasaran, kita terjang saja. Jalan menuju tebing batu rembesan cukup jauh, menguras tenaga dan menguji nyali. Kanan jalan sudah benar-benar jurang. Apa jadinya apabila kita terperosok kedalam? Jangan di bayangkan.
Pemandangan menuju tebing batu luar biasa indahnya. Jurang berpadu dengan hijaunya hutan lebat dan ada anak sungai yang membelah hutan tersebut. Ah kalian harus melihatnya sendiri. Benar-benar indah.
Kemudian kami sampai di batu-batu besar dan kita harus melewati di bawahnya, duh mikir macem-macem lagi nih. Gimana kalau batunya roboh? Jadi apa kita? Jangan di bayangkan. Dibalik batu tersebut, pertanyaan tentang tebing batu rembesan terjawab sudah. Jadi ini benar-benar tebing batu pada umumnya. Keunikannya, tebing ini mengeluarkan air yang terus mengalir jadi nampak seperti hujan gerimis seperti itu. Di depan tebing nampak pemandangan hijau bercampur kabut lembut, kala itu.
pakai payung biar gak kehujanan ya..
3.      Mandi kabut
Mandi kabut artinya kita akan berkawan dengan kabut apabila kabut sedang turun di tempat ini. Mandi kabut ini dapat dijumpai apabila hari sudah cukup sore. Sekitar pukul 14.00 WIB. Bai pecinta kabut, pasti sukaaaa.
4.      Suara kicau burung
Di grenden ini masih sangat asri, burung burung pun banyak kita jumpai jenisnya disini. Mulai dari plentet hingga elang. Iya elang, kagum banget leea saat melihat elang terbang di atas pohon pinus. Kayaknya ini kali pertama leea menyaksikan elang jarak dekat deh. (Ndesooo) hehe
5.      View 1600 mdpl
Pemandangan kota magelang dapat kita saksikan dari tempat wisata ini jika sedang cerah. 1600 mdpl? Cukup tinggi ya.
6.      Spot selfi
Spot selfi disini sangat banyak. Mulai dari jembatan hati, rumah kurcaci, menara tinggi banget ga tau namanya, ayunan, kalimat-kalimat menggelitik dan masih banyak lagi. kalau pengen ber-hammock ria juga bisa loh.. gak punya hammock? Jangan khawatir, ada yang menyewakan hammock dengan harga terjangkau. Yakni cukup 5000 rupiah.
7.      Flying fox
Ada flying fox juga lhoo. Lengkap kan?  Cukup panjang lintasan flying fox  nya, 130 meter dengan bonus pemandangan yang aduhai indah dipandang mata. Cocok buat yang mengajak piknik sang buah hati.
8.      Downhill
Bagi kalian yang menyukai tantangan, boleh di coba ber downhill ria disini. Tentunya dengan trek yang bermacam-macam. Mulai ringan, berat, hingga sangat berat. Mau coba?
9.      Prewedding
Ga perlu dijelaskan yeee. Malah buat baper leea. huhuhu
10.  Sunset
Sunset itu matahari terbenam (buat yang belum tau leea kasih tahu). Bagi pecinta sunset kaya leea, tempat ini boleh dicoba. Meskipun leea juga belum pernah nyobain sunset disini. Hehe
11.  Outbond
Berhubung leea kesana pas nggak hari libur, jadi leea ga tau dimana tempat outbond nya.
12.  Campground
Kalau pengen camping ceria bisa kesini. ga kalah indahnya dengan yang di ungaran lhoo. Lahannya cukup luas. 50 tenda pun kayaknya muat.
Fasilitasnya cukup lengkap, ada tempat parkir, warung warung dengan harga wajar, toilet, dll.
Sekian pengalaman piknik kami. Sisihkan uangmu, langkahkan kakimu, tangkap potret keindahan alam melalui kedua lensamu.
Dari saya pecinta es susu coklat. Penikmat lembayung senja, sunrise, sunset, kabut, dan kamu.. tunggu kisah kami berikutnya.
Follow IG @rizkyamaalliiaa ya untuk lihat lebih banyak lihat galeri leea.



ini baru awal perjalanannya

pemandangan sebelum tebing batu rembesan

tebing batu

kapan kita prewed???


itu belakang ada menara dan rumah kurcaci. gak sempat kesana soalnya dikejar waktu

Senin, 20 Maret 2017

Alam Sutra Wisata Baru di Selo Boyolali, Menyaksikan Merbabu di lereng Merapi

Alam Sutra, Menyaksikan Merbabu di lereng Merapi
Ditengah kesibukan ngejar gelar Amd, disempatin sebentar buat jalan jalan. Ini bukan disempatin deng. Tapi mumpung ada kesempatan. Berhubung praktik kali ini dapet penempatan di dataran tinggi, jadi kesempatan buat jalan jalan semakin tinggi. Selo Boyolali. Kawasan ini cukup terkenal di kalangan mereka yang hobi jalan-jalan. Bagaimana tidak, di kecamatan ini terdapat dua basecamp gunung yang terkenal di Indonesia, yakni Merapi dan merbabu. Kali ini kita (Leea dan partner praktik) main ke Alam Sutra. Sebenarnya ini bukan kali pertama leea main selama praktik, tapi tempat main sebelumnya mungkin sudah mainstream dan sudah banyak yang tau. Yang pertama jembatan gantung kajor, masih asing ya? Okay kapan kapan leea sempatin nulis. Yang kedua New Selo, pasti sudah banyak yang tau tempat wisata satu ini.
Alam sutra, merupakan wisata alam yang terletak di Dusun Pojok, Desa Samiran, Kecamatan Selo Boyolali. Wisata ini menyuguhkan pemandangan Gunung Merbabu yang  tak kalah indahnya dengan New Selo. Bukan hanya pemandangan saja, wisata yang dibangun diatas ladang warga ini menyediakan tempat untuk berselfi ria berupa rumah pohon, panggung yang cukup menguji adrenalin, dan tempat duduk yang berada persis di bibir jurang. Cukup menguji adrenalin. Bersantai di ketinggian bersama sang terkasih sambil mengamati warga berkebun. Siapa yang tak ingin?
Untuk menuju ke Objek Wisata ini, jalan yang di tempuh cukup mudah, bagi yang sudah biasa melewati medan yang menanjak menurun menikung. Apabila kalian dari Boyolali, pacu kendaraan menuju selo, sesampainya di pasar selo pelankan laju kendaraan dan amati sekitar, kalian akan melihat petunjuk arah yang cukup besar menuju objek wisata ini. Dari pasar kemudian belok kiri kemudian belok kanan pada gapura hitam besar. Setelah masuk gapura ini, mungkin kalian akan sedikit bingung karena yang ada hanya jalan setapak dan sempit. Ikuti saja jalan tersebut. Jika papasan dengan motor lain memang menyulitkan, tapi ya mau gimana lagi itu jalannya. Kemudian ketemu tulisan parkir, kalian bisa memakirkan kendaraan disana dan berjalan sekitar 50 meter. Untuk HTM leea kurang tau. Karna kemarin bareng pemilik kebun jadinya free. Menurut informasi, pengunjung hanya dikenakan biaya parkir sebesar 2000 permotor. Cukup murah kan?
Sekian pengalaman piknik kami. Sisihkan uangmu, langkahkan kakimu, tangkap potret keindahan alam melalui kedua lensamu.
Dari saya pecinta es susu coklat. Penikmat lembayung senja, sunrise, sunset, kabut, dan kamu.. tunggu kisah kami berikutnya.
Follow IG @rizkyamaalliiaa ya untuk lihat lebih banyak lihat galeri leea.
Itu belakang udah jurang ya

pengen naik yang tertinggi tapi enggak berani

ini nih icon nya

Serasa di atas awan ya, sayang merbabu ngumpet

yang mau terjun bebas bisa banget

Kamis, 09 Februari 2017

“Tertipu” oleh Air Terjun Kedung Kayang

“Tertipu” oleh Air Terjun Kedung Kayang
Seperti biasa, “mencuri” waktu untuk berlibur ditengah persiapan wisuda tahun ini (InsyaAllah). Lagi-lagi air terjun. Bosan bukan? Tidak! Karena setiap air terjun mempunyai sisi istimewa nya masing masing.
Kali ini dengan semangatnya kita menyalakan sepeda motor melaju santai ke daerah lereng Gunung Merapi-Merbabu. Tujuan sudah jelas, air terjun Kedung Kayang.
Air terjun ini berada di desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. rute menuju air terjun ini tidak terlalu susah. Dari ketep pass, ke kiri (jalan menurun) kemudian belok ke kiri pada pertigaan pertama (jika lurus menuju borobudur). Setelah itu, petunjuk arah menuju air terjun tersebut sudah cukup jelas sehingga banyak membantu perjalanan kalian.
Sesampai di gapura masuk wisata Kedung Kayang ini, loket masuk telah terlihat. Untuk tiket masuknya, cukup terjangkau. Yakni Rp. 4000 untuk satu orang ditambah Rp. 500 asuransi jasa raharja dan parkir Rp. 2000 untuk Sepeda motor. Lahan parkir sudah tersedia luas dan layak.
Mari kita mulai perjalanan. Belum lama berjalan, kita akan menemui petunjuk arah, ke kanan menuju bawah air terjun dan terowongan, sedangkan ke kiri akan sampai ke atas air terjun. Oh iya, air terjun ini istimewa. Kalau biasanya kita hanya bisa menikmati air terjun dari bawah, di Kedung Kayang ini kita bisa menikmati air terjun dari depan, bawah, dan atas. Seru bukan? Tapi jangan sampai tertipu ya. Loh kok tertipu? Simak cerita ini hingga tuntas.

Ketika itu, saya memutuskan untuk mengunjungi bawah air terjun dan terowongan terlebih dahulu. Karena menurut saya, itu lebih menarik. Bisa bermain air di bawah air terjun serta melihat terowongan. Baru beberapa melangkah kan kaki, air terjun yang memiliki debit air cukup keras sudah terlihat, menambah semangat perjalanan kali ini. Sekitar 2 menit berjalan, terdapat shelter yang sudah memprihatinkan kondisinya, dari sini pemandangannya sungguh aduhai, benar-benar memanjakan mata.
air terjun yang terlihat ketika perjalanan..
jalan yang luar biasaaa..
Satu menit berjalan dari shelter tersebut, akan menemui terowongan yang tidak luas. Entah ini terowongan apa. Yang penasaran bisa langsung cek tkp aja ya. Dari terowongan, perjalanan sungguh mencekam. Bukan karena horror, tapi jalanan menurun berliku-liku dan cukup panjang. Sekitar 10 menit, kita akan sampai di sungai, bawah air terjun. Di tempat inilah kami bingung, kecewa. Air terjun yang saya lihat kok arusnya tidak sederas yang saya lihat di atas? Kok kecil begini air terjunnya. Sungguh, hati ini kecewa. Rencana akan basah-basahan, hujan-hujanan di bawah air terjun musnah sudah.
Belum hilang lelah saya, saya memutuskan untuk kembali ke atas. Lagi-lagi perjalanan yang kami lewati sungguh mencekam fisik. Jalan menanjak tanpa ampun. Dengan nafas tersengal-sengal dan beberapa kali istirahat untuk minum, akhirnya sampai juga di titik nol (persimpangan air terjun bawah dan atas). Istirahat sebentar, kemudian menuju ke atas air terjun. Jalan menuju atas air terjun tidak seberat menuju bawah air terjun. Hanya 3 menit, saya sampai di atas air terjun yang saya lihat ketika di bawah. Air terjun yang membuat hati sedikit kecewa. Disini saya lagi-lagi kecewa, karena apa? Air terjun dengan debit deras berada di depan mata saya. Dengan kata lain, ketika saya di bawah tadi, air terjunnya tertutup tebing dan semak-semak. Jika tadi saya tidak buru-buru naik mungkin akan ku temukan air terjun ini dan bermain air dibawahnya. Sungguh, kecewa lagiiii.
Memang dasarnya kepo ya, penasarannya tinggi, lihat jalan bebas semak langsung berinisiatif untuk menyusurinya, melewati sungai, kemudian seperti kebun yang sungguh lebat tanamannya dan terdapat sungai dengan jembatan yang terputus. Sedikit kesusahan melewatinya, tapi akhirnya terlewati juga. Sungai besar dihadapan mata, tapi untungnya arusnya tidak begitu keras. Tapi saya tetap berjaga karena air nya keruh. Dengan keberanian yang setengah-setengah saya beranikan berfoto di bibir air terjun. Waw. Ini pengalaman pertama. Luar biasa deg-deg an nya.
Melihat jam tangan, ternyata nyaris dzuhur dan langit mulai mendung. Saya memutuskan untuk segera kembali. Sebenarnya terpikir untuk kembali kebawah, tapi perut sudah melilit dan mood berantakan karna lapar. Yasudah, pulang saja. Hihi. Sebenarnya ada yang jualan namun belum atau tidak buka pada saat itu.
Sekian pengalaman piknik kami. Sisihkan uangmu, langkahkan kakimu, tangkap potret keindahan alam melalui kedua lensamu.
Dari saya pecinta es susu coklat. Penikmat lembayung senja, sunrise, sunset, kabut, dan kamu.. tunggu kisah kami berikutnya.

Follow IG @rizkyamaalliiaa ya untuk lihat lebih banyak lihat galeri leea.





Rabu, 11 Januari 2017

Watu Kodok, Pantai Cantik Ramah untuk Camping

Watu Kodok, Pantai Cantik Ramah untuk Camping
Jadi ceritanya aku ingin liburan disela kesibukan. Mumpung tahun baru libur lumayan panjang,  kurencanakan untuk Camp di pantai Pacitan, Jatim. H-2 tahun baru, aku baru cari tenda kesana kemari, tapi sudah terlambat. Pencarianku mencari tenda kesana kemari tidak membuahkan hasil. “Maaf mbak, sudah di booking semua”, “Wah, mbak datangnya telat. Coba tahun depan.” Iya kali tahun depan?? Yasudah rencana Camping Ceria di pantai musnah.
Hingga pada siang tanggal 1 januari, aku sekali lagi mencoba “mencari” tenda. Dan. Taraaa, dapat tenda dan perlengkapannya. Ya sudah, mimpi yang terkubur muncul lagi. Tak perlu berfikir lama, aku langsung mempersiapkan segalanya. Tapi, aku mulai ragu jika harus ke Pacitan, mengingat letaknya yang lumayan jauh dari tempat tinggal dan belum tahu jalan dan medan jalannya. Akhirnya kami memilih di Gunung Kidul saja, entah akan ke pantai mana nantinya. Kemudian pukul 13.00 aku berangkat dari Salatiga menuju Surakarta untuk mengambil beberapa barang disana, kemudian melesat ke Klaten, tentu ada maksudnya juga. Dari klaten sekitar pukul 16.00, berharap sampai pantai sebelum gelap. Tapi, kita Cuma bisa merencanakan saja ya. Ternyata cukup jauh jaraknya. Oh iya, saat itu aku lewat klaten-bayat-lalu mana lagi entah, gampang kok jalannya. Petunjuk jalan yang tersedia sudah sangat membantu, tinggal ikuti saja arahnya.
Sempat berdebat akan ke pantai mana, perdebatan di akhiri untuk memilih antara pantai baron, kukup, sepanjang, drini, indrayanti, sundak karena letaknya yang lumayan dekat dan berdampingan. Hari sudah petang tapi belum sampai tujuan juga, diputuskan untuk istirahat dan makan malam di tepi jalan sekaligus melepas lelah. Saat makan, sempat tanya ke pemilik warungnya tentang pantai yang bagus buat Camping, jawaban pertama beliau adalah “Pantai Sepanjang”, iya bagus kok. Soalnya dulu pernah juga camping disana dan jatuh cinta sama sunrise dan bintang lautnya. Okay, lumayan udah ada pandangan perjalanan kali ini akan ke sepanjang.
Arus balik saat itu cukup ramai, mengingat minggu ini libur panjang dan minggu liburan. Sesampainya di depan pintu masuk Sepanjang, tidak langsung masuk melainkan menepi dahulu untuk memantapkan pilihan benar-benar akan ke pantai ini. Babak baru pun dimulai, persis didepan/samping ada orang ketabrak motor atau motor nabrak orang. Ya kita nolong dulu yang kita bisa. Lumayan lama, sekitar sejaman disitu. Lalu tak sengaja, ada warga yang saat itu juga ikut “menonton”, lalu tanya-tanya sama warga lokal tersebut. Dan ia mengatakan “Pantai Watu Kodok”. Hmmm cukup menarik dari namanya, dan yang lebih beruntung lagi, ia bersedia mengantarkan hingga tujuan. Pantai ini bersebelahan dengan sepanjang. Persis, bersebelahan ya..
Okay, sampai di pantai langsung cek lokasi, dimana sekiranya bisa mendirikan tenda dengan aman. Pengen dekat dengan pantai, tapi tingginya air laut cukup membuat kita ciut nyali. Sekitar pukul 21.00, tenda berhasil berdiri di lokasi yang cukup tinggi dan jauh dari air laut, namun masih bisa menikmati pantai malam itu. Oh iya, di tengah perjalanan dalam pendirian tenda, ketemu “teman” camping berasal dari temanggung ingin bersisihan mendirikan tenda. Dengan senang hati, Alhamdulillah tambah sodara, tambah temen camping.
Tenda sudah berdiri, saatnya menikmati malam dengan iringan deburan ombak yang kian beradu ditambah bekal yang dibawa menambah kenikmatan. (Selamat menikmati-pada bagian ini sungguh susah tergambarkan)
Cukup larut, ada baiknya bergegas tidur untuk menikmati sunrise keesokan harinya. Namun apa yang terjadi, belum sempat memejamkan mata, angin kencang datang disusul air jatuh dari langit. Setelah memastikan tenda aman, mencoba memaksakan untuk tidur. Dan berhasil tidur hingga pagi. Namun apa yang terjadi lagi, kejadian semalam terulang kembali. Angin bersama air menyerang hingga akhirnya kuputuskan untuk hujan-hujan sekitar pukul 07.00 pagi tanggal 2 februari.
Tak lama setelah itu, hujan berhenti. Yeey bisa menikmati pagi ini, walaupun sedikit kecewa karena melewatkan sunrise pagi ini.
Melihat bukit/tebing/karang (atau apalah) berdiri tidak terlalu tinggi di sebelah kiri tenda, salah satu teman yang “katanya” traveler, tertarik untuk mendaki di pantai. Okay, ikut.. jalan yang dilalui tidak susah, malah terbilang mudah. Awalnya pasir, kemudian tanah berlumpur, kemudian bebatuan yang cukup tajam.
Sesampainya di atas.. wawww. Indah sekali, nggak nyesel deh ikut kesini. Puas-puasin foto dulu sebelum kembali ke bawah. Di sisi kanan terlihat pantai Watu Kodok yang bersih dari sampah dan pengunjung. Indah banget pokoknya. Kalian harus coba. Suka banget. Disebelah kiri kita, nampak pantai juga. Entah itu pantai apa, tidak kalah bersihnya dengan pantai di bagian kanan, hanya bedanya di pantai ini banyak perahu, mungkin untuk mencari ikan ya.
diatas bukit yang kita daki. pemandangan luar biasa


ini foto tak kira cuma ada di internet aja.. wkwk
Setelah puas, kita turuni bagian cukup tinggi ini. Kemudian kita berlari-lari mengejar kepiting. Bermain air, berpacu dengan ombak, hingga akhirnya hujan turun cukup deras. Yasudah, kita akhiri ini. Bergegas mandi kemudian merubuhkan tenda kita.
Bersih kan pantainya?
Sekitar pukul 11.00 aku mulai meninggalkan pantai yang elok ini menuju kota kelahiranku, Salatiga.
Sekian pengalaman piknik kami. Sisihkan uangmu, langkahkan kakimu, tangkap potret keindahan alam melalui kedua lensamu.
Dari saya pecinta es susu coklat. Penikmat lembayung senja, sunrise, sunset, kabut, dan kamu.. tunggu kisah kami berikutnya.
Follow IG @rizkyamaalliiaa ya untuk lihat lebih banyak lihat galeri leea.






Kamis, 22 Desember 2016

Air Terjun Semirang/ Curug Semirang

Air Terjun Semirang/ Curug Semirang
Curug semirang memiliki ketinggian airterjun 45 meter dan berada di lereng kaki gunung ungaran. Wahana air terjun ini memiliki luas sekitar 10 ha dan dikelola oleh perum perhutani.
Air terjun Semirang atau yang biasa disebut Curug semirang terletak di dusun gintungan, Desa gogik, kecamatan ungaran barat, Kabupaten Semarang. Apabila dari salatiga, perjalanan dapat ditempuh sekitar 45 menit menggunakan sepeda motor untuk dapat sampai ke area Curug semirang ini. Dengan rute Dari jalan raya solo-semarang belok kiri pada papan nama Curug Semirang atau jalan menuju Stikes Ngudi Waluyo Ungaran. Kemudian mengikuti papan petunjuk arah yang sudah cukup jelas di sekitar lokasi.
Sampai di area wisata Curug Semirang di dusun gintungan, akan ditemui area parkir sederhana yang dikelola penduduk sekitar. Dengan membayar uang parkir 2000 rupiah, anda dapat dengan tenang meninggalkan kendaraan anda disana.
Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju loket wisata Curug semirang. Satu orang di bandrol harga tiket 5000 rupiah (pada hari biasa dan apabila belum naik ya). Cukup terjangkau kan. Sebelumnya jangan membayangkan kalau kita sudah sampai di air terjunnya lhoo ya. Perjalanan sesungguhnya baru akan dimulai. Untuk sampai di air terjun Semirang, pengunjung harus berjalan kaki sejauh 950 m. Ya hampir 1 km. Lumayan sekalian olahraga dan menikmati hutan. Hehe
Pada awal perjalanan kita akan menemui mushola, warung, dan papan peraturan dan himbauan setelah itu kita hanya akan melewati jalan setapak atau dua tapak, terkadang melewati tanah berbatu. Tapi jangan khawatir, jalannya aman kok. Selama perjalanan pengunjung disuguhkan beberapa hal yang menarik. Seperti sungai aliran dari Curug Semirang, kicauan burung yang hidup bebas di hutan, udara bebas polusi. Ada juga toilet di jalur menuju curug semirang. Oh iya, pengunjung dalam melakukan perjalanan juga akan menyebrangi sungai kecil dengan bebatuan yang agak licin. Santai, tidak berbahaya. Malah menyenangkan. Sekitar 200 meter sebelum sampai lokasi air terjun, gemericik air sudah dapat terdengar di telinga pengunjung.
Sekitar berjalan sekitar 30-45 menit, barulah pengunjung sampai di air terjun Semirang. Angin berhembus sangat kencang mampu menghapuskan keringat pada tubuh. Pengunjung akan langsung dapat menikmati air terjun setinggi 45 meter tersebut. Airnya jernih, bersih, bening, dan dingin. Sungguh menyegarkan. Pengunjung dapat mandi atau bermain air di bawah air terjun semirang. Disana juga ada tempat ganti pakaian yang sebenarnya kurang memadai. Tapi ya cukuplah. Apabila perut lapar, kira-kira 50 meter dari air terjun ada warung menjual makanan dan minuman yang harganya standar. Standar tempat wisata maksudnya. Hehe

Sekian pengalaman piknik kami. Sisihkan uangmu, langkahkan kakimu, tangkap potret keindahan alam melalui kedua lensamu.
Dari saya pecinta es susu coklat. Penikmat lembayung senja, sunrise, sunset, kabut, dan kamu.. tunggu kisah kami berikutnya.
Follow IG @rizkyamaalliiaa ya untuk lihat lebih banyak lihat galeri leea.